Kerajaan Mataram Islam : Letak Geografis, Pendiri, Masa Kejayaan dan Masa Keruntuhannya


Kerajaan Mataram Islam : Letak Geografis, Pendiri, Masa Kejayaan dan Masa Keruntuhannya
Peta Kerajaan Mataram Islam

Kesultanan Mataram Islam merupakan kerajaan Islam yang ada di pulau Jawa. Letak geografis Kerajaan Mataram Islam terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Menurut berita-berita kuno tentang Mataram, wilayahnya Di daerah aliran Sungai Opak dan Progo yang bermuara di Laut Selatan. Membentang antara Tugu sebagai batas utara dan Panggung Krapyak di batas selatan, antara Sungai Code di timur dan Sungai Winongo sebelah barat.
Sejarah Mataram Islam tidak lepas dengan sejarah kerajaan Islam sebelumnya yaitu Pajang. Kerajaan ini pernah berjaya dan besar pada masanya, sehingga dikenal di seluruh Nusantara. Bahkan Kesultanan Mataram Islam ini memiliki peran besar dalam menyebarkan agama Islam dan melawan penjajah. Peninggalan Kerajaan Mataram Islam sampai saat ini masih ada dan dilestarikan di beberapa museum.

Mataram merupakan wilayah yang dihadiahkan oleh Sultan Adiwijaya dari kerajaan Pajang kepada Ki Ageng Pemanahan. Hadiah ini diberikan karena Ki Ageng Pemanahan berhasil membantu Sultan Adiwijaya dalam membunuh Arya Penangsang, ketika memperebutkan tahta Kesultanan Demak sepeninggal Sultan Trenggana. Ki Ageng Pemanahan kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ki Gede Mataram yang menjadi perintis kesultanan Mataram dan mengalami kemajuan.

Sayangnya, Ki Ageng Pemanahan sendiri tidak merasakan nikmatnya hasil dari tanahnya. Hal ini dikarenakan pada 1575 M dia meninggal, anaknya yang bernama Sutawijaya kemudian melanjutkan usahanya untuk memajukan mataram. Dalam prosesnya, Sutawijaya berhasil membangun Mataram lebih besar, sehingga dia mendapat gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama.
Pada tahun 1586, Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi Sultan Mataram. Oleh karenanya, Sutawijaya ditetapkan sebagai pendiri Kerajaan Mataram Islam. Wilayah yang dikuasai pada masa Panembahan Senopati adalah mencakup Mataram, Kedu, dan Banyumas.pada tahun 1601, Panembahan Senopati wafat dan meninggalkan wilayah kekuasaannya yang meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setelah dia wafat, kekuasaannya digantikan oleh anaknya, Raden Mas Jolang (Pangeran Seda Ing Krapyak) dengan gelar Sultan Hanyakrawati (1601-1613 M).
Pada masa pemerintahan Sultan Hanyakrawati, Mataram Islam tidak melakukan ekspansi wilayah. Dia hanya mempertahankan wilayah peninggalan Panembahan Senopati, karena banyak perlawanan dari daerah pesisir. Setelah Sultan Hanyakrawati wafat, Mataram diberikan kepada RM Rangsang, setelah mendapat nasehat dari Aipati Mandakara. Setelah dilantik RM Rangsang diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Senapati Ing Alaga Ngabdurrahman.
Masa kejayaan Kerajaan Mataram Islam yaitu ada masa pemerintahan Sultan Agung. Pada saat itu, ibukota Mataram Islam dipindah di Kerto. Sultan Agung terkenal dengan Politik ekspansinya, sehingga bukan hanya Jawa yang ingin dikuasai melainkan seluruh Nusantara. Kehidupan politik Kerajaan Mataram Islam pada masa Sultan Agung ini berkembang pesat. Wilayah Nusantara banyak yang sudah berhasil dikuasainya. Perlawanan yang juga menghambat adalah penjajah Belanda.
Pada tahun 1633 M Sultan Agung membuat sebuah kebijakan baru untuk membudayakan Islam di Jawa, yaitu membuat kalender Jawa Islam. Kalender ini dihitung berdasarkan bulan. Untuk memperkokoh kekuasaannya, sultan Agung juga memakai gelar sunan. Gelar ini dipakai setelah ia menguasai Madura. Kemudian sultan Agung juga mengirimkan utusan ke Mekkah untuk kembali ke Mataram dengan membawa gelar khusus bagi Sultan Agung, yaitu Sultan Abdul Muhammad Maulana Matarami.
Sultan Agung meninggal dunia pada tahun 1645 M. Sepeninggalnya, Mataram dipimpin oleh para penguasa yang lemah, kejam dan mengadakan perjanjian dengan Belanda sehingga memberi Belanda kesempatan untuk berkoloni di Nusantara. Pemimpin yang berkuasa di Mataram setelah meninggalnya sultan Agung adalah anaknya, yaitu Amangkurat I (1645-1677).
Amangkurat 1 merupakan raja yang melumpuhkan Kerajaan Mataram Islam karena keserakahannya sendiri. Dia terkenal dengan kekejamannya dan tidak mampu merangkul rakyatnya. Amangkurat tidak mampu bertindak sebagai sultan yang disegani rakyatnya. Sehingga kesultanan Mataram jatuh dalam prahara panjang dengan para musuhnya.
Sebelum wafat, Amangkurat I menetapkan Adipati Anom sebagai penggantinya yang baru, Adipati Anom diberi gelar Amangkurat II. Amangkurat II segera melanjutkan kerjasamanya dengan Belanda untuk merebut Mataram kembali, ditandai dengan perjanjian di Jepara yang mana Belanda menginginkan wilayah Timur Karawang dan upah dalam bentuk uang. Setelah ditandatangani, Amangkurat II dan Belanda menyerbu Mataram dan berhasil mengalahkan Raden Kajoran sehingga Amangkurat II berhasil merebut tahta Mataram.
Sejak 1743 Mataram hanya memiliki wilayah Bagelen, Kedu, Yogyakarta dan Surakarta. Setelah meninggalnya Amangkurat II, kesultanan semakin merosot dan banyak campur tangan dari Belanda. Tragisnya  pada 1755 melalui perjanjian Giyanti Mataram terpecah menjadi dua kerajaan yakni Surakarta dengan rajanya Susuhunan (Pakubuwono III) dan Yogyakarta dengan rajanya Pangeran Mangkubumi ( Hamengku Buwono I).
Kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Islam adalah pertanian. Tanah pertanian yang berupa persawahan yang luas dapat dijadikan sumber produksi padi yang sejak dulu terkenal di Pulau Jawa. Selain beras Mataram juga mengimpor berbagai kebutuhan yang berasal dari luar negeri seperti kain katu, porselin, sutera, permata, rotan, dan lain sebagainya. Perlengkapan senjata seperti meriam atau kanon dapat dibeli dari perdagangan beras.
Raja-raja Mataram Islam adalah sebagai berikut:
1.      Ki Ageng Pemanahan               
2.      Panembahan Senopati (1584/6-1601)
3.      Raden Mas Jolang  (1601-1613)
4.      Raden Mas Rangsang (1613-1645)
5.      Amangkurat I (1645-1677)
6.      Amangkurat II (1677-1703)
Adapun peninggalan Kerajaan Mataram Islam di antaranya adalah:
·       Sastra Gendhing karya Sultan Agung, di dalamnya berisi tentang ajaran kebajikan mencakup sosial, mitis, politik dan filsafat.
·         Tahun Saka, dibuat saat pemerintahan Sultan Agung pada 1633 M.
·  Kalang Obong, tradisi kematian orang kalang dengan cara membakar benda peninggalan orang yang meninggal tersebut.
·   Pertapaan Kembang Lampir, tempat Ki Ageng Pemanahan bertapa dan mendapat wahyu.
·         Masjid Jami’ Pakuncen, didirikan masa Amangkurat I.
·         Masjid Agung Negara.
·         Gapura dan gerbang Makam  Kota gede.
·         Makam-makam raja Mataram di Imogiri.
·         Dan lain-lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Pengetahuan Menurut Para Ahli Filsuf

Sejarah Singkat Masjid Istiqlal Jakarta

Zakat Profesi atau Zakat Penghasilan | Pengertian Lengkap