Kerajaan Pajang : Sejarah, Letak, pendiri dan Masa Kejayaan dan Kemunduran


Kerajaan Pajang : Sejarah, Letak, pendiri dan Masa Kejayaan dan Kemunduran
Kerajaan Pajang 
Kerajaan Pajang merupakan kerajaan Islam yang berada di Jawa Tengah. Letak geografis Kerajaan Pajang berada di pedalaman. Sejarah Kerajaan Pajang berkaitan erat dengan Kesultanan Demak. Peninggalan Kerajaan Pajang yaitu Kompleks keraton yang sekarang hanya tinggal batas-batas pondasinya saja, berada di perbatasan Kelurahan Pajang, Kota Solo dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Pendiri Kerajaan Pajang adalah Hadiwijaya atau sering disebut Jaka Tingkir.

Pada awalnya, Pajang merupakan salah satu kadipaten yang masih dikuasai oleh Kesultanan Demak. Lahirnya kerajaan ini diawali dengan wafatnya sultan Demak yaitu Sultan Trenggono. Setelah beliau wafat, terjadi perebutan antara adik dan anaknya. Perebutan itu dimenangkan oleh Sunan Prawata yang kemudian mengganti sultan Kerajaan Demak. Sementara adiknya Sultan Trenggono dikenal sebagai Pangeran Sekar Sedo Ing Lepen, dikarenakan dibunuh di dekat sungai oleh Sunan Prawata. Setelah Sunan Prawata berkuasa, anak dari Pangeran Sekat Seda Ing Lepen yang bernama Arya Penangsang membunuh Sunan Prawata beserta keluarganya.

Arya Penangsang dikenal sangat kejam, bahkan untuk merebut kekuasaan di Kesultanan Demak, maka ia harus mengalahan menantu Sultan Trenggono yang bernama Hadiwijaya atau sering disebut Jaka Tingkir. Pada saat itu, Hadiwijaya berkedudukan sebagai adipati Pajang. Dalam pertempuran itu akhirnya Jaka Tingkir berhasil mengalahkan Arya Panangsang. Pada tahun 1568, Hadiwijaya memindahkan atribut-atribut Kesultanan Demak ke Pajang, karena berhasil membunuh Arya Penangsang. Pengesahan Hadiwijaya sebagai sultan pertama di Kesultanan Pajang dilakukan oleh Sunan Giri, kemudian ia diberi gelar dengan Sultan Adiwijaya.

Dengan berpindahnya pusat Kesultanan Demak ke Pajang, menyebabkan Kerajaan Islam pesisir bergeser ke pedalaman, dan berakhirlah pemerintahan Kesultanan Demak. Setelah Kesultanan Pajang resmi sebagai kerajaan Islam pewaris Demak, akhirnya Kesultanan Demak kini berubah menjadi kadipaten yang dipimpin oleh seorang adipati bernama Arya Panggiri. Ia merupakan anak dari Sultan Prawoto yang diangkat oleh Sultan Pajang.

Setelah perang melawan Kesultanan Mataram pada tahun 1582, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Wafatnya Sultan Hadiwijaya menyebabkan Terjadinya persaingan antara putra dan menantu sultan yang bernama Pangeran Bawana dan Arya Panggiri. Selanjutnya Arya Panggiri yang mendapat dukungan dari Panembahan Kudus berhasil naik tahta pada tahun 1583. Pada masa pemerintahan Arya Panggiri ini, hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram, sehingga kehidupan rakyat Pajang terabaikan.

Pada tahun 1586, Pangeran Benawa bersekutu dengan Danang Sutawijaya untuk menyerbu Pajang. Akhirnya Arya Panggiri kalah dan kembali ke Demak, daerah asalnya. Pangeran Benawa berhasil menjadi sultan ketiga Kesultanan Pajang. Pemerintahannya berakhir pada tahun 1587, dan tidak ada putra mahkota yang menggantikannya. Hal ini menyebabkan runtuhnya Kerajaan Pajang, yang kemudian nama Mataram melejit sebagai kerajaan Islam di Jawa.

Kehidupan politik Kerajaan Pajang termasuk singkat, karena di dalamnya terdapat pergolakan dan pemberontakan yang terjadi. Pasalnya, dari awal munculnya kerajaan ini juga dengan peperangan antara Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya. Selain itu, setelah Sultan Hadiwijaya meninggal dunia, sudah terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Benawa dan Arya Panggiri.

Meskipun Kerajaan Pajang berlangsung singkat, namun mendapatkan kesaksian dari masyarakat bahwa kerajaan ini besar. Masa kejayaan Kerajaan Pajang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Ia berhasil menaklukan Madiun, Blora pada 1554 M, dan Kediri pada 1577. Ia juga mampu mendapatkan pengakuan dari adipati se- Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 1581 M. Hal terakhir inilah yang memantapkan eksistensi Kesultanan Pajang di Jawa.

Kehidupan ekonomi Kerajaan Pajang tidak seperti kerajaan lainnya yaitu perdagangan, karena Kerajaan merupakan kerajaan yang berada di pedalam, sehingga pelayar pedagang tidak bisa terjangkau. Akan tetapi, ekonomi kerajaan ini terkenal dengan tanaman padi. Pada abad ke-16 dan ke-17, Pajang terkenal dengan lumbung padi yang melimpah. Pasalnya daerah Pajang merupakan daerah stategis, dimana merupakan pertemuan 3 sungai, yaitu Sungai Pepe, Dengkeng dan Bengawan Sala.

Akibatnya wilayah Pajang menjadi subur karena pengairannnya yang bagus. Sungai Bengawan Sala yang panjang menjadi jalur pendistribusian padi dan barang-barang perdagangan yang lain. Perekonomia Pajang juga didukung dengan adanya pasar Laweyan. Ia adalah penyokong perekonomian masyarakat Pajang.

Sosial budaya Kerajaan Pajang tidak jauh berbeda dengan Kerajaan Demak, bahkan tampilan keraton Kerajaan Pajang sama dengan Keraton Kesultanan Demak. Pada saat pemindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang juga dilakukan pemindahan semua benda pusaka Demak. Kesusastraan dan kesenian yang sebelumnya terpusat di Demak dan Jepara, perlahan mulai bergeser ke Pajang. Membicarakan soal budaya, Kesultanan Pajang, memiliki seorang pujangga keraton Pajang yang bernama Pangeran Karang Gayam yang merupakan keturunan dari Ki Gede Karang Lo Taji. Karyanya yang terkenal adalah Kitab/Serat Nitisruti yang berisi tentang ajaran Astabrata berupa 8 ajaran kebijakan untuk menjadi pedoman para raja.

Isi dari Serat Nitisruti adalah sebagai berikut:
  1. Seorang raja harus mengendalikan dan menguasai nafsunya sendiri
  2. Seorang pembesar haruslah mengolah budi pekerti
  3. Seorang pemimpin haruslah tahu cara meggunakan atau menerapkan semua peralatan pertahanan
  4. Seorang pemimpin bisa melakukan olah rasa untuk mengetahui isyarat ketuhanan
  5. Seorang pemimpin harus bisa mengendalikan diri ketika terpojok
  6. Seorang pemimpin harus mampu menjaga kerukunan dengan rekan-rekannya supaya tidak menciptakan persoalan dari dalam pemerintahan
  7. Seorang pemimpin harus bisa menghilangkan keserakahannya dan selalu bersikap ramah
  8. Seorang pemimpin haruslah berhati luas, kaya akan maaf, senantiasa ramah memberikan ketentraman hati bagi sesama manusia sehingga ia dapat menjadi sumber segala tata krama.

Pada masa Kesultanan Pajang juga terdapat dua ulama yang berpengaruh namun berbeda aliran. Syekh Siti Jenar merupakan ulama beraliran mistik dan sinkreitis dan berkembang di Pengging. Sedangkan Sunan Tembayat lebih Puritan dan berkembang di Tembayat dan Klaten.
Bukti peninggalan Kerajaan Pajang sampai sekarang masih dilestarikan. Peninggalan Kesultanan Pajang tersebut di antaranya adalah:


  1. Masjid Laweyan. Masjid Laweyan menjadi bukti adanya peranan Kesultanan Pajang dalam proses islamisasi. Masjid ini dibangun pada tahun 1546, yakni di saat masa kerajaan Pajang.
  2. Maqam Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. Maqam ini berada di Butuh, Gedongan, Sragen Jawa Tengah. Komplek pemakaman dinamakan makam Butuh.
  3. Maqam para bangsawan Pajang. Di pemakaman ini terdapat 20 makam, di mana salah satunya adalah makam Ki Ageng Henis yang merupakan salah satu perintis kerajaan Pajang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Pengetahuan Menurut Para Ahli Filsuf

Sejarah Singkat Masjid Istiqlal Jakarta

Zakat Profesi atau Zakat Penghasilan | Pengertian Lengkap