Sejarah Kerajaan Samudra Pasai dan Raja-rajanya


Sejarah Kerajaan Samudra Pasai
Sejarah Kerajaan Samudra Pasai



Kerajaan Samudra Pasai juga dikenal dengan Kerajaan Samudra Darussalam. Letak Kerajaan Samudra Pasai berada di pesisir pantai utara Sumatra, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi AcehIndonesia. Pendiri Kerajaan Samudra Pasai adalah Meurah Silu yang memiliki gelar Sultan Malik As-Saleh sekitar pada tahun 1267 M. Hal ini berdasarkan dengan prasasti yang ditemukan di makam Sultan Malik As-Saleh yang menyatakan bahwa Sultan Malik al-Saleh ini meninggal pada bulan Ramadhan, 676 tahun sesudah hijrah Nabi atau 1297 M.

Sultan Malik As-Saleh atau Meurah Silu memiliki ayah yang bernama Marah Gajah dan ibunya Putri Betung. Meurah Silu sebagai pemimpin Samudra Pasai, masuk Islam atas jasa dari Syaikh Ismail beserta rombongannya yang datang dari Makkah. Ketika Meurah Silu masuk Islam kemudian dia mengganti namanya dengan Malik As-Saleh. Lalu dia menikah dengan putri Kesultanan Perlak yang bernama Putri Ganggang.

Pada awalnya, Raja Muhammad, ayah dari putri Betung, tidak dapat membabat rumpun tersebut bersama para pengikutnya, tetapi ia berhasil membabat rumpun ketika ia bekerja sendirian. Ketika ia telah berhasil membabat semua rerumputan itu, Raja Muhammad menemukan seorang gadis kecil. Gadis kecil itulah yang kemudian dijadikan anak angkat olehnya dan diberi nama Putri Betung.

Setelah kejadian itu Raja Muhammad memberitahukan kepada Raja Ahmad, saudaranya. Raja Ahmad pun pergi untuk membabat sebidang hutan, lalu ia bertemu dengan seorang tua yang tinggal di sebuah mushalla. Orang tua itu memberitahu bahwasannya ada seorang anak kecil yang setiap hari jum’at menunggangi gajahnya untuk mandi di tepi sungai. Raja Ahmad pun menjadikan anak itu sebagai anak angkat dan memberikan nama Tuan Gajah. Setelah dewasa, Putri Betung dinikahkan dengan Meurah Gajah oleh Raja Ahmad dan Raja Muhammad. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu Meurah Silu dan Meurah Hasum. Keturunan Meurah Silu inilah nantinya yang menjadi sultan di Kesultanan Samudra Pasai.

Sultan Malik As-Saleh sebagai sultan hanya bertahan lima tahun yaitu dari tahun 1292-1297 M. Kemudian kekuasaannya diganti oleh putranya yaitu Sultan Muhammad Malik Al-Zahir. Pada masa ini, Sultan Malik Al-Zahir berhasil menyatukan Kesultanan Perlak dengan Samudra Pasai. Jadi bisa dikatakan bahwa masa pemerintahan Sultan Malik Al-Zahir, Kerajaan Samudra Pasai mencapai puncak kejayaan atau keemasannya.
Sultan Malik Al-Zahir juga seorang pemimpin perang yang agung dan dia telah memproklamirkan perang bagi para penyembah berhala sehingga penyembah berhala itu tunduk pada pemerintahannya dan membayar jizyah (upeti) kepadanya. Selain itu, Sultan Malik Al-Zahir juga mampu menjadikan Samudra Pasai sebagai bandar niaga yang didatangi oleh berbagai pedagang baik dari Arab, India, dan Cina. Dia juga menjadikan Samudra Pasai sebagai pusat pengkajian dan pengembangan syiar Islam. Sultan Malik Al-Zahir pun yang mampu menyelematkan serangan dari pasukan Gajah Mada Kerajaan Majapahit.

Pada akhir kekuasaannya yaitu tahun 1326 M, Sultan Malik Al-Zahir terpaksa membagi Kesultanan kepada kedua orang putranya, yaitu Sultan Malik Al-Mahmud dan Sultan Al-Malik Al-Mansur. Sultan Al-Malik Al-Mansur mendapatkan bagian samudra sedangkan Sultan Malik Al-Mahmud mendapat wilayah Pasai. Sayangnya, setelah Sultan Malik Al-Mahmud wafat, pasai dikuasai oleh putranya yaitu Sultan Ahmad dan Pasai dapat dikuasai oleh Majapahit, sehingga sultan-sultan yang berkuasa di Kesultanan  Pasai adalah sultan yang tunduk di bawah perintah dari Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur.
Adapun nama-nama sultan atau raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Samudra Pasai adalah sebagai berikut:
  1. Sultan Al Malik Al Saleh (Meurah Silu) (1292-1297 M)
  2. Muhammad Malik Al Zahir (Muhammad I) (1297-1326 M)
  3. Mahmud Malik Al Zahir (Ahmad I) (1326-1345 M).
  4. Manshur Malik Al Zahir (1345-1346 M)
  5. Ahmad Malik Al Zahir (1346-1383 M).
  6. Zainal Abidin Malik Al Zahir (1383-1405 M)
  7. Nahrasiyah (1405-1420 M)
  8. Abu Zaid Malik Al Zahir (1420-1455 M)
  9. Mahmud Malik Al Zahir (1455-1477 M)
  10. Zain Al Abidin (1477-1500 M)
  11. Abdullah Malik Al Zahir (1501-1513 M)
  12. Zainal Abidin (1513-1524 M)


Dalam bidang sosial dan ekonomi, Kerajaan Samudra Pasai merupakan jalur perdagangan yang sebagian besar berasal dari Gujarat, Persia, dan Arab. Dengan demikian, Samudra Pasai mendapat kemajuan yang pesat. Perdagangan dan pelayaran di sana juga tidak kalah maju. Kebanyakan pedagang dikuasai oleh orang Islam, sehingga Samudra Pasai mendapat julukan serambi mekah.

Samudera Pasai pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia memiliki basis pelayaran dan perniagaan. Pihak kesultanan mendapatkan pajak dari setiap pengawasan dalam perdagangan dan pelayarannya. Hal ini dibenarkan oleh Tome Pires, wartawan Portugis, yang melaporkan bahwa di Pasai pada 1513 M., setiap kapal yang membawa barang-barang dari Barat dikenakan pajak. Samudra Pasai juga memiliki mata uang Draham dan Dirham, sehingga dapat menjadi bukti adanya kesultanan karena di setiap koinnya terdapat nama-nama sultan yang berkuasa.

Penyebaran Islam di Samudra Pasai dapat dikatakan cukup masif. Peran Samudra Pasai dalam menyebarkan agama Islam pun sangat besar. Selain menjadi pusat pengkajian Islam sekaligus sebagai pusat penyebaran syiar-syiar Islam, Samudra Pasai juga merupakan tempat berkumpulnya ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan. Karena Sultan Malik Al-Saleh sangat mencintai ilmu pengetahuan, sehingga Samudra Pasai melahirkan banyak ulama yang memiliki ilmu tentang agama Islam.

Kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan Islam kedua di Indonesia setelah Kesultanan Perlak. Oleh karena itu, Samudra Pasai juga mempunyai peninggalan yang sampai saat ini dapat disaksikan dan menjadi bukti kejayaan kerajaan tersebut. Peninggalan-peninggalan itu di antaranya adalah:
  1. Makam Sultan Malik AL-Saleh Makam Malik Al-Saleh terletak di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Nisan makam sang sultan ditulisi huruf Arab.
  2. Mata uang dari Kesultanan Samudra Pasai adalah dinar emas. Dinar emas ini pertama kali dicetak pada masa Sultan Muhammad (1297- 1326).
  3. Hikayat Raja Pasai merupakan peninggalan yang berisikan cerita dari Raja Pasai yang pertama yaitu Meurah Silu yang kemudian ia masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Malik Al-Saleh.
  4. Cakra Donya ialah sebuah lonceng besar yang terbuat dari besi dan berbentuk stupa yang dihadiahkan oleh kaisar China kepada Sultan Samudra Pasai.


Runtuhnya Kerajaan Samudra Pasai diakibatkan karena dua perkara yaitu masalah internal dan masalah eksternal. Masalah internal yaitu adanya pertikaian di lingkungan kerajaan sehingga menimbulkan lemahnya pemerintahan. Sementara masalah ekternal, Pada abad ke-15 kerajaan Samudra Pasai kehilangan kekuasaan perdagangan atas Selat Malaka, dan kemudian dikacaukan Portugis pada tahun 1511-1520 M. Selain itu, Samudra Pasai juga mendapat serangan dari Kerajaan Aceh Darussalam yang dpimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Pengetahuan Menurut Para Ahli Filsuf

Sejarah Singkat Masjid Istiqlal Jakarta

Zakat Profesi atau Zakat Penghasilan | Pengertian Lengkap