Kerajaan Ternate dan Tidore: Sejarah, Peninggalan, Raja-rajanya, Masa Kejayaan dan Kemundurannya


Kesultanan Ternate dan Tidore terletak di Maluku. Kesultanan Ternate merupakan kerajaan Islam terbesar di Maluku. Kesultanan Ternate berdiri pada abad ke-13 M dengan ibu kotanya mulanya berada di Sampalu. Kesultanan Ternate didirikan oleh Masyhur Malamo, raja pertama Ternate yang memerintah pada tahun 1257-1272. Di Maluku pada abad ke-13 terdapat empat kolano (kerajaan) yang terkenal dengan peranannya dalam bidang perdagangan, yaitu Ternate, Tidore, Makian, dan Moti.

Letak Ternate sendiri sangat strategis karena berada di antara Sulawesi dan Papua yang menjadi salah satu jalur pelayaran sekaligus perdagangan terpenting di Nusantara bagian timur kala itu. Oleh karena itu, Ternate sering dikunjungi oleh beberapa suku, di antaranya adalah Melayu, Jawa, Arab, juga Cina. pemimpin Ternate ketujuh, Sida Arif Malamo (1317-1331) berinisiatif mengundang penguasa Tidore, Jailolo, dan Bacan berkumpul untuk membicarakan kemungkinan adanya persatuan. Hal itu dikarenakan adanya kekhawatiran banyak kerajaan lainnya yang cemburu atas suksesnya Ternate.

Dari awal berdirinya Kerajaan Ternate belum memeluk agama Islam. Islam masuk ke Maluku sekitar abad ke-15 M. Menurut Restu Gunawan dalam buku Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutra (1999), Raja Ternate pertama yang diketahui memeluk agama Islam adalah Kolano Marhum (1465-1486). Ia masuk Islam setelah mendapat seruan dakwah dari seorang pedagang asal Minangkabau, Datu Maulana Husein yang datang ke Ternate pada tahun 1465. Pada tahun 1486, Kolano Marhum wafat dan dimakamkan berdasarkan syariat Islam. Kepemimpinan Kolano Marhum digantikan oleh putranya, Zainal Abidin (1486-1500).

Pada masa inilah, gelar Kolano dirubah menjadi Sultan. Pada tahun 1512 Masehi, Portugis datang dan memengaruhi Kesultanan Ternate. Akibat datangnya imperialisme Portugis ini, Ternate banyak terjadi konflik, khususnya konflik saling memperebutkan kekuasaan. Akan tetapi, pada tahun 1575 M, Sultan Baabullah (1570-1583), berhasil mengusir Portugis dari wilayah Ternate. Oleh karenanya, masa kejayaan Kesultanan Ternate berada pada masa Sultan Baabullah. Setelah Sultan Baabullah wafat pada 1583, kejayaan Ternate perlahan meredup dan akhirnya jatuh ke tangan penjajah lainnya, yakni Belanda.

Kesultanan Ternate seringkali menyerang Belanda, tapi tidak pernah berhasil. Hingga akhirnya Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1902-1915) menjadi pemimpin terakhir Kesultanan Ternate yang masih memiliki kekuatan politik. Setelah itu, Kesultanan Ternate hanya sebagai nama adat dan ketika Indonesia merdeka Ternate meleburkan diri ikut negara kesatuan Indonesia.

Selain Ternate, Kerajaan Tidore juga kerajaan besar di Maluku. Berduanya bersaing untuk memperebutkan kekuasaan dan perdagangan, namun akhirnya bergabung atau bersatu untuk melawan kolonialisme. Kesultanan Tidore adalah kerajaan yang terletak di Selatan Ternate, yaitu di wilayah kota Tidore, Maluku Utara. Tidore dikenal dengan nama "Limau Duko" atau "Kie Duko" yang berarti pulau bergunung api.

Syariat Islam mulai digunakan dalam sistem pemerintahan kerajaan pada tahun 1495 Masehi. Raja Tidore yang pertama masuk Islam adalah Raja Ciriliyati. Setelah masuk Islam, ia diberi gelar Sultan Jamaluddin (1495-1512). Setelah Sultan Jamaluddin wafat, kemudian digantikan oleh Sultan Mansur. Pada masa ini, ia memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum, Tidore Utara. Posisi ibukota baru ini berdekatan dengan Ternate, dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan Pulau Maitara.

Masa kejayaan Kesultanan Tidore yaitu pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk melawan Belanda yang dibantu oleh Inggris. Sultan Nuku adalah putra dari Sultan Jamaluddin. Pada masa kejayaannya, kerajaan tersebut dapat menguasai sebagian besar Pulau Halmahera, Pulau Buru, Pulau Seram, Pulau Raja Ampat, Pulau Kai, dan pulau-pulau di pesisir Papua Barat. 

Di bidang ekonomi, Ternate dan Tidore memang kaya dalam hal rempah-rempahnya, sehingga persaingan perdagangan terus meningkat. Pada saat itu, bangsa Eropa berkunjung ke Maluku.  Tujuan kedatangan bangsa Eropa ke Maluku (Ternate) hanya untuk membeli rempah-rempah dari para petani. Namun, dengan semakin meningktanya kebutuhan industri di Eropa akan rempah-rempah, mereka kemudian mengklaim daerah-daerah yang mereka kunjungi sebagai daerah kekuasaannya.

Di sektor budaya, Ternate memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan Nusantara bagian Timur, khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu mencakup agama, adat istiadat, dan bahasa. Kedudukan Ternate sebagai kerajaan yang berpengaruh turut pula mengangkat derajat bahasa Ternate sebagai bahasa pergaulan di berbagai wilayah yang berada dibawah pengaruhnya.

Peran Kesultanan Ternate dan Tidore dalam menyebarkan Islam sangat besar. Bukan hanya di sekitar Maluku, namun sampai seluruh Nusantara. Setelah kesultanan Ternate dan Tidore telah bersih dari pasukan Portugis, dimulai kembali misi mengembangkan Agama Islam pada daerah-daerah yang belum tersentuhnya. Sultan Babullah juga tak henti-hentinya berdakwahdan memperluas wilayah kekuasaannya, hingga tahun 1580 berhasil mencapai batas-bataas di Utara sampai ke Mindanao, di Selatan sampai Bima, di Timur sampai Irian Barat, dan di sebelah Barat sampai di Makassar hingga berhasil mencakup 72 pulau.

Nama-nama raja Kesultanan Ternate:

1.      Sultan Zainal Abidin (1486 - 1500)

2.      Sultan Bayanullah (1500 - 1522)  

3.      Sultan Hairun (1536-1570)

4.      Sultan Baabullah ( 1570-1583)

5.      Sultan Sibori (1675 - 1689)

6.      Sultan Said Fatahullah (1689 - 1714)

7.      Sultan Amir Iskandar Zulkarnain Syaifuddin (1714 - 1751)

8.      Sultan Ayan Syah (1751 - 1754 )

9.      Sultan Syah Mardan (1755 - 1763)

10.  Sultan Jalaluddin (1763 - 1774)

11.  Sultan Harunsyah (1774 - 1781)

12.  Sultan Achral (1781 - 1796 )

13.  Sultan Muhammad Yasin (1796 - 1801)

14.  Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1902 - 1915)

15.  Sultan Iskandar Muhammad Jabir Syah (1929 - 1975 )

16.  Sultan Haji Mudaffar Syah (Mudaffar Syah II) (1975 – 2015)

Nama-nama raja Kesultanan Tidore

1.      Sultan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab’us Kaicil Paparangan Jou Barakati Nuku  (1797-1805)

2.      Sultan Zainal Abidin  (1805-1810)

3.      Sultan Motahuddin Muhammad Tahir  (1810-1821)

4.      Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah (1821-1856)

5.      Sultan Achmad Syaifuddin Alting  (1856-1892)

6.      Sultan Achmad Fatahuddin Alting  (1892-1894)

7.      Sultan Achmad Kawiyuddin   (1894-1906)

8.      Sultan Zainal Abidin Syah (1947-1967)

9.      Sultan Djafar Syah  (1999-2012)

10.  Sultan Husain Syah (2012- sekarang)

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Pengetahuan Menurut Para Ahli Filsuf

Sejarah Singkat Masjid Istiqlal Jakarta

Zakat Profesi atau Zakat Penghasilan | Pengertian Lengkap